Apakah Wajib Menafkahi Anak Sambung?

By | February 13, 2024

Menikahi seorang janda dapat menjadi pilihan hidup yang bijak. Namun, seringkali muncul pertanyaan mengenai kewajiban menafkahi anak sambung dari pernikahan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan merujuk pada pandangan Ustadz Abdul Somad, seorang ulama yang dihormati di Indonesia. Menurut beliau, seorang laki-laki yang hendak menikahi janda tidak wajib menafkahi anak sambungnya, karena kewajiban menafkahi anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ayah kandung.

Anak Sambung dan Tanggung Jawab Ayah Kandung

Apakah istilah “anak sambung” memiliki pengertian yang jelas? Anak sambung adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada anak hasil pernikahan seorang wanita yang memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Dalam hal ini, Ustadz Abdul Somad menyatakan bahwa kewajiban menafkahi anak sambung sepenuhnya terletak pada ayah kandungnya, bukan pada suami baru atau calon suami. Ayah kandunglah yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada anak tersebut.

Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) di Indonesia. KUHPerdata mengatur bahwa ayah kandung memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada anak-anaknya, termasuk anak hasil pernikahan sebelumnya. Oleh karena itu, seorang laki-laki yang hendak menikahi janda tidak memiliki kewajiban hukum untuk menafkahi anak sambungnya.

Pentingnya Kehadiran Emosional dan Perhatian

Meskipun secara hukum tidak wajib menafkahi anak sambung, penting bagi suami baru atau calon suami untuk memahami bahwa kehadiran emosional dan perhatian terhadap anak sambung dapat mempengaruhi dinamika keluarga yang harmonis. Mengembangkan hubungan yang baik dengan anak sambung bisa menjadi faktor penting dalam membangun kebahagiaan rumah tangga.

Sebagai suami baru atau calon suami, dapatlah diibaratkan bahwa Anda adalah seorang pelayan di dalam kapal yang membawa keluarga Anda. Anda tidak hanya bertanggung jawab untuk mengarahkan kapal ke arah yang benar, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua penumpang, termasuk anak sambung. Meskipun tidak memiliki kewajiban hukum, mendekati anak sambung dengan penuh kasih sayang dan pengertian akan memperkuat hubungan keluarga Anda.

Mendukung Tumbuh Kembang Anak Sambung

Sebagai suami baru atau calon suami, Anda dapat berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak sambung dengan memberikan dukungan moral dan motivasi. Anda dapat menjadi panutan bagi anak sambung dalam hal pendidikan, moral, dan nilai-nilai kehidupan yang positif. Dengan melibatkan diri aktif dalam kehidupan anak sambung, Anda dapat membantu menciptakan lingkungan yang harmonis dan mendukung perkembangan anak tersebut.

Mendukung tumbuh kembang anak sambung juga dapat melibatkan komunikasi yang baik antara Anda, pasangan Anda, dan anak sambung. Mendengarkan perasaan dan pendapat anak sambung dengan penuh perhatian akan memperkuat hubungan emosional di antara semua anggota keluarga. Dengan saling memahami dan saling mendukung, keluarga Anda dapat tumbuh menjadi keluarga yang bahagia dan harmonis.

Dalam pandangan Ustadz Abdul Somad, seorang laki-laki yang hendak menikahi janda tidak wajib menafkahi anak sambungnya. Kewajiban menafkahi anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ayah kandung. Meskipun demikian, penting bagi suami baru atau calon suami untuk memahami pentingnya kehadiran emosional dan perhatian terhadap anak sambung dalam membangun hubungan keluarga yang harmonis. Mendukung tumbuh kembang anak sambung melalui dukungan moral dan komunikasi yang baik dapat memperkuat hubungan keluarga dan menciptakan lingkungan yang bahagia bagi semua anggota keluarga.

Jadi, meskipun tidak memiliki kewajiban hukum, memperhatikan dan mendukung anak sambung adalah hal yang bijak dan bertanggung jawab sebagai seorang suami baru atau calon suami.